Minggu, 03 Juli 2011

Cerpen

 *_Itu aku ... bukan Dia ..._*
“ gw gak masuk sekolah lagi hari ini, Buatin gw surat ijin lagi ya.” Zee datang menghampiriku yang sedang asik menyantap menu sarapan dimeja makan.

“apa? Absen lagi?” aku terkejut setengah mati, baru kemarin lusa ia tidak masuk sekolah, dan sekarang tanpa ada sedikit penyesalan karena tidak masuk sekolah, dengan mudahnya menyuruhku untuk mengizinkannya lagi. Harus dengan alasan apalagi ?

“ogah ah ...” tolakku tegas.

“ayolah vee, sekali ini aja ...” kali ini ia mengeluarkan jurus acting memelasnya. “ gw janji dech, ini yang terakhir...” permohonanya kali ini benar-benar membuat selera makanku hilang.

“kalo gw ngomong ogah ya ogah.”  Amarahku semakin memuncak.

“ya udah kalo loe gak mau, lagian gw juga gak bakal masuk sekolah lagi.” Bantah Zee

“tambah gila aja loe ini.” Aku semakin gak ngerti apa yang sebenernya ada dipikiran Zee saudara kembarku.  Kami memang kembar, tapi tidak semuanya kami memilikim kesamaan, hanya fisik saja kami serupa mungkin malah sama 95 % . Tapi banyak juga ketidak cocokan diantara kami. Mulai dari selera makan, hoby, hingga style kami berbeda.

“gw udah atur semuanya sama maneger gw.” Jelas Zee dengan memoles wajahnya yang sebenarnya lebih cantik jika tidak bermake up dengan bedak. Tapi bukan zee kalau wajahnya tidak dipolesi dengan beerbagai merk kosmetik.

“yakin loe mau keluar dari sekolah?” tanyaku untuk meyakinkannya.

“ya iyalah.” Jawab Zee enteng.

“bagaimana dengan mama?”

“mama? Mana sempat ia memikirkan study kita. Lagian dia pasti setuju.”

Benar juga kata Zee, mana sempat mama memikirkan masalah study. Yang ia pikirkan hanyalah bisnis dan uang. Sedangkan kami? Mungkin no sekiannya dari beberapa kesayangan mama. Apa lagi setelah papa meninggal, mama harus melanjutkan bisnis papa yang maju. Sampai-sampai ia lupa dengan kami. Ia pikir kami akan bahagia jika semua kebutuhan kami terpenuhi tanpa adanya kasih sayang. Huft ... iri sebenarnya jika melihat keluarga yang sederhana tetapi hidup bahagia, tidak seperti kami yang semua tercukupi tapi tanpa cinta.

                                                                                                ***





Jam telah menunjukan pukul satu dini hari, tapi Zee belum juga pulang. Entah mengapa malam ini aku sangat mengkhawatirkan Zee. Tidak seperti hari-hari biasanya, aku selalu cuek dengan urusannya. Apalagi setelah ia memutuskan untuk berhenti sekolah dan memilih home schooling demi karirnya sebagai artis,  Aku lebih tak peduli dengan urusannya. Tapi malam ini berbeda, Tak ada sms atau telpon darinya. Biasanya sesibuk apapun dia, dia pasti menyempatkan untuk mengsmsku. Meskipun hanya sekedar cerita-cerita gokil, atau sms nakal dari para fans lelakinya yang ia kirimkan ulang untuk memanasiku yang masih tetap menjomblo. Tapi tidak hari ini. Kemana dia ? hatiku semakin tak tenang ketika tanganku tanpa sengaja menyenggol vasphoto kami yang kemudian jatuh dan pecah. Ada apa ini ? akankah terjadi sesuatu dengan Zee? Kucoba mengirimkan sms ataupun menelponnya. Tapi masih saja sama dengan satu jam yang lalu, tidak ada jawaban.

“kukkuruyuk .......” alarm dari handphone ku terdengar begitu keras sehingga membangunkanku yang tertidur dimeja belajar.

“ hoa ......” rasanya enggan sekali mata ini untuk terbuka. Dengan bermalas-malasan kupaksa kakiku untuk melangkah menuju kamar Zee yang letaknya disebelah kamarku.

“krekkkkk .........”kubuka pintu kamar zee yang tidak terkunci.

“Zee... Zee...” kuberharap Zee sudah pulang. Tapi ........? ternyata zee masih saja belum pulang. Entah mengapa hati ini semakin tak tenang.

“non .... ada telpon dari mba’ shanti “ teriak bi Ina dari ruang bawah.

“iya bi ...” sepertinya aku akan mendapat jawaban. Mba’ shanti maneger Zee menelpon pagi-pagi seperti ini pasti ada sesuatu. Mataku mendadak segar  dan lupa akan rasa kantuk dan lelah setelah begadang semalam.

“halo ..... ada apa mba?” tanyaku tak sabar.

“Vee, zee dirumah sakit. Semalam ia mendapat kecelakaan setelah mengikuti casting sebuah film.”

“apa ? di rumah sakit apa mbak?”  seketika tubuhku lemas. Ternyata apa yang kurasakan semalam benar.

“ RS. Harapan Kita, ..........”

                                                                                                ***

Disepanjang perjalanan aku hanya diam dan terus memanjatkan do’a. Aku tak ingin terjadi apa-apa dengan zee. meskipun kami sepertinya tak akur tapi ada rasa perhatian yang dalam diantara kami. Detak jantung ini semakin tak beraturan ketika melihat zee yang terkulai lemas diatas ranjang rumah sakit.  Belum lagi jarum invus yang harus tertancap lama di tangan kanannya. Ia pasti merasakan begitu kesakitan saat ini.

“Zee... loe pasti sembuh !” airmata ku terus saja mgengalir tanpa hentinya.

***

Memandang zee yang terkulai tak berdaya ragaku sakit. Tak pernah terbayangkan sebelumnya, zee yang selalu ceria harus tertidur tanpa daya. Matanya masih saja tertutup walau telah lima hari ia terawat. Wajahnya begitu terlihat pucat. Tubuhnyapun terlihat lebih kurus. Hidupnya kini harus berteman selang-selang kecil untuk membantu bernafasnya. Boneka- boneka panda yang selalu menemaninya tidur kini berganti dengan mesin pembaca detak jantungnya. Entahlah sampai kapan ia harus terbaring lemah. Tuhan .... tolong zee .......

                                                                                                ***

Pagi ini adalah pagi kesepuluh zee dirumah sakit. Belum ada perkembang dari pertama ia dirawat. Masih sama dengan kemarin-kemarin. Ia masih terbaring lemah tanpa daya. Disekelilingnya masih terdapat banyak mesin-mesin kecil dan selang-selang ditubuhnya.

“zee .... besok loe pasti sembuh. Entar kalo loe dah sembuh kita pergi kedanau ya ....” kata-kata yang selalu ku ungkapkan untuk mensupport zee. Meskipun ia hanya diam, tapi aku yakin ia mendengarkanku.  ku bersihkan wajah zee dengan handuk yang telah kubasahi dengan air hangat. Aku ingin ia terlihat cantik meski ia lemah. Wajahnya masih tetap terlihat cantik meski tanpa make up.

“ tok ...tok ...” sepertinya ada seseorang yang akan menjenguk zee.

“ masuk ...” perintahku.

“bagaimana vee perkembangan zee ?” mbak  shanti datang dengan membawa rangkaian bunga tulip kesukaan zee.

“masih sama mbak ...” jawabku tanpa semangat.

“ vee ... ada berita bagus untuk zee.”

“apa mbak?”

“akhirnya ia terpilih sebagai pemeran utama di film yang ia ikuti casting.”

“sayang mbak ia tak tau dan tidak mungkin dapat memerankannya. Batalkan saja !.”

“gak mungkin vee .”

“ trus ....?”

“kita cari jalan keluar.” sepertinya mbak shanti telah menyusun suatu rencana.

“gimana caranya?” tanyaku tak yakin.

“kau menggantikan zee dalam film itu.”

“apa ...?” aku terkejut mendengar ide konyol itu.

“kaliankan kembar,jadi orang akan terkecok dengan sandiwara ini.” Mbak  shanti memperkuat idenya.

“gak mbak, aku gak mau ngikutin ide konyol itu.” Tolakku mentah-mentah.

“tapi Vee ...”

“pokoknya aku gak mau, titik !”

“vee ... ini impian zee. Ini bukan film biasa bagi zee. Ini adalah film pertama zee dan ceritanya diangkat dari novel favorite zee. Dia pasti kecewa kalo film ini dibatalkan.”

Aku masih duduk terdiam dalam pilihan ini. Aku tau kalau film ini adalah impian zee. Aku teringat saat saat kami berulang tahun ke 17. Seperti tahun-tahun sebelumnya kami selalu bertukar kado. Dan kali ini dia memberiku sebuah gelang cantik yang ia beli saat ia liburan ke Australia dengan mama. Saat itu aku tidak ikut karena aku memiliki kegiatan sendiri bersama teman-temanku. Sedangkan aku memberinya sebuah novel yang berjudul “ pelangi dibulan januari”. Novel itulah yang membuat zee ingin menjadi artis. Ingin sekali suatu saat nanti ia akan memainkan sebuah peran sebagai shella seperti apa yang diceritakan dalam novel.

“vee ... novel yang loe kasih bagus banget ceritanya.” Zee semangat sekali saat mebjelaskannya pada ku.

“vee ... gw mau ikutan casting nih, do’ain gw ya ...”

“vee ... gw ditawarin maen iklan nih, diterima gak ya ...”

“vee ... gw pengen banget bisa maen film yang ceritanya dianggkat dari novel yang loe kasih ke gw.”

“vee ...  ... ...”

Penggalan-penggalan harapan zee.  Mulai dari saat pertama terobsesi menjadi artis, awal casting, dan suatu impian yang saat ini akan tercapai. Harapan-harapan itu membuatku semakin sulit untuk memilih. Mana mungkin aku akan setuju dengan ide konyol itu. Akulah orang pertama yang menentang zee masuk dalam kehidupan intertaiment. Dan sekarang ? aku harus menggantikannya?.

“ayolah vee ...” mbak shanti tak lelah membujukku untuk merngikuti sarannya.

 Sedangkan aku masih saja terdiam dengan pilihan yang bagiku begitu sulit untuk kujalani. Aku tak ingin impian zee sirna, tapi disisi lain aku tak ingin masuk dalam dunia itu.

“ vee ... ia pasti senang jika kamu mau menggantikannya. Ayolah zee untuk kali ini saja, sampai zee benar-benar sembuh.” Kali ini mbak shanti benar-benar memohon kepadaku.

“ baiklah aku setuju.” Dengan berat hati aku mengikuti ide konyol itu.

                                                                               

                                                                                                ***

“selamat ya ... ni hadia buat kamu.” seorang pria datang menghampiriku yang kemudian memberikanku setangkai bunga plus dengan coklat yang terbungkus indah.

“ya terima kasih.” Jawabku singkat.

“ koq cuman gitu sih? Gak ada kata-kata laen ya ?” tanya pria itu akrab.

“ hmm ......” aku bingung harus berkata apa. Pria ini begitu indah untuk dipandang. Wajahnya tidak kalah saing dengan kim bum atau  dengan Afghan.

“say .... koq diem aja? Kamu marah ya ? maaf dech kalo akhir-akhir ini aku gak bisa nemuin kamu, soalnya aku sibuk banget say ...” jelasnya dengan penuh rasa menyesal.

“say ?” kata ini membuatku semakin bingung dengan situasi ini. Siapa pria ini sebenarnya ? jangan-jangan dia pacar zee, tapi mengapa dia tidak cerita?  Apa yang harus aku lakukan?

“diaz .... tangkap !” mbak shanti datang dengan membawa beberapa botol softdrink.

“yupz .... thank’s ya.”

“loe keluar dulu sono ! zee mau ganti dulu .” perintah mbak shanti.

“ok’... say aku tunggu dimobil ya ...” pria itu mengusap kepalaku sebelum berlalu pergi. Dan aku? Masih berselimut tanya. Siapa dia ?

“vee ...” mbak shanti mengagetkanku yang memang dari tadi aku tertegun memandang pria misterius itu.

“hmmm mbak ... siapa dia ?” tanyaku penasaran.

“ dia Diaz, dia pacar zee.” Jelasnya singkat.

“ow ... ternyata pria berwajah tampan itu Diaz namanya” gumamku.

Tapi entah kenapa saat mendengar bahwa Diaz pacar zee aku sedikit kecewa. Jangan – jangan ? ah gw gak boleh jatuh cinta ma diaz. Diaz itu punya Zee. Tapi, mau gak mau aku harus menjadi pacarnya sementara. Tuhan .... tolong aku ... jangan biarkan aku jatuh cinta ...



                                                                                                ***



Hari yang begitu indah meskipun setiap hari-hariku penuh dengan jadwal syuting. Aku fikir aku hanya akan menjadi zee dalam film itu. Ternyata salah. Aku mulai terbiasa dengan kehidupanku sebagai zee sekarang. Dari pagi hingga petang aku selalu berada didepan kamera. Tawaran-tawaran iklan, sinetron,presenter, bahkan film banyak berdatangan. Aku tak pernah merasa letih ataupun mengeluh tentang hidupku sekarang ini. Semua kujalani dengan hati yang bahagia. Entah karena aku senang atau karena ada Diaz yang selalu ada untukku. Aku sadar Diaz mencintaiku sebagai Zee bukan Vee. Tapi aku cukup bahagia dengan cinta yang kumiliki. Meskipun Diaz tak pernah tahu bahwa aku yang selalu bersamanya adalah Vee. Seperti hari ini, aku akan menemuinya setelah pekerjaanku selesai  nanti. Hari ini hari yang spesial untukku karena Hari ini adalah hari pertamaku merayakan ulang tahunnya. Sebuah kue tart cantik  yang kubuat sendiri telah kupersiap untuknya. Tak lupa pula kado yang telah kupersiapkan dari jauh hari. Sebuah jam tangan yang kubeli dihongkong saat aku syuting iklan. Semoga saja ia menyukainya.....

“happy birth day to you .... happy birth day to you ...”  ku kejutkan Diaz dengan kehadiranku tepat pukul 00.00 di apartementnya dengan sebuah tart di tanganku.

“ oh may God ....” Diaz sangat terkejut dengan kehadiranku.

“happy birth day say ....... ayo tiup lilinnya.” ku ucapkan selamat kepadanya dengan penuh rasa cinta.

“thank’s say ....”

“eitszzz .... make a wish dulu dong...” cegahku saat Diaz akan meniup lilin.

       Sungguh malam yang penuh kebahagiaan. Setelah merayakan party kecil-kecilan, kami menghabiskan malam disuatu tempat yang indah. Tempat yang unik namun menyenangkan. Tempat yang jarang diketahui orang namun Diaz sering ketempat ini untuk menghilangkan kejenuhannya. Ditempat itu aku dapat melihat indahnya malam dengan hamparan bintang yang berkilau. Angin yang ramah sehingga aku betah berlama-lama ditempat itu. Ditempat itu juga aku dapat melihat kota jakarta yang sumringah menjadi indah dimalam hari. Malam ini tak dapat aku lupakan .....

“say  kamu mau tau gak tadi aku berharap apa?” Diaz memulai pembicaraan setelah beberapa menit kami diam.

“apa ?” tanyaku antusias.

“aku berharap kita diberi kesehatan dan umur yang panjang agar kita selalu bersama-sama untuk selamanya, sampai kakek nenek, bahkan aku ingin hidupku disyurga kelak bersama kamu say ...”

          Entah mengapa mendengar Diaz air mataku tertumpah tanpa henti. Teringat Zee yang sangat amat Diaz cintai masih tertatih melawan sakit. Sedangkan aku? Aku yang terkapar karena cinta sesaatku. Tak bisa bohongi diri jika akupun mencintai Diaz.  Harapannya adalah harapanku. Namun .... hal yang tak mungkin untukku.Diaz tidaklah mencintaiku, namun hati ini enggan untuk jauh ....

                                                                                                ***

Sebelum berangkat beraktifitas, kusempatkan untuk menelpon Zee yang sekarang sedang berada di vila didaerah bogor. Semenjak keluar dari rumah sakit pasca kecelakaan waktu itu ia putuskan untuk tinggal diVilla untuk menenangkan diri dan melakukan Terapi. Memang Zee belum 100% sembuh. Ia masih harus dibantu dengan tongkat jika berjalan. Tentang diriku yang menggantikannya, ia sangat setuju. Bahkan ia senang waktu aku beritahu tentang film itu. Aku senang jika Zee senang. Aku berharap ia akan selalu tersenyum, dan aku tak ingin melihat ia bersedih meskipun aku harus menagis dan terluka. Mendengar berita perkembangan kesehatan Zee yang semakin meningkat aku senang. Suaranya terdengar ceria. Harapan- harapannya untuk kembali terdengar begitu semangat. Bahkan ia begitu semangatnya ingin bertemu Diaz.
“Vee gimana kabar Diaz? Baik- baik aja kan? Gw dah gak sabar pengen cepet sembuh, gw kangen banget Vee sama Diaz.” Celoteh Zee yang sepertinya sangat merindukan Diaz setelah lama menahan rindu.

Aku hanya tersenyum dengan menahan airmata yang sebenarnya sudah tak dapat aku bendung. Namun aku tak ingin perasaanku merusak keceriaan Zee. Mungkin kisah cintaku akan segera berakhir dengan kembalinya Zee. Namun itu lebih membuatku tenang dengan melihat Zee bahagia.



                                                                                                ***

“ titttt ........... titttttt .....”  suara hanphone di sebelahku membuat aku terbangun. Padahal hari ini aku sudah berencana akan bangun siang.

“ apa itu ?” gumamku saat melihat secarik kertas bertulis “ ikuti aku .... dengan mengikuti peta di bawah ini.” Aku sudah menebak siapa yang menulis ini. Tanpa ragu-ragu aku telusuri jalan-jalan seperti dipeta tersebut. Kerena aku sangat bersemangat dengan intruction itu aku sampai lupa untuk sekedar mencuci muka atau gosok gigi, bahkan aku masih memakai baju tidur plus dengan beberapa roll difoni rambutku. “pasti kerjaan Diaz nih .” hatiku yakin.

Setelah melewati beberapa gang akhirnya aku sampai disebuah tempat yang tak asing bagiku. Kini aku berada disebuah danau dimana aku dan Zee bermain. Sungguh sebuah kejutan bagiku. Danau ini bertambah ibdah dengan kehadiran Diaz yang kini berada tepat dihadapanku. Wajahnya begitu menentaramkan hati, apa lagi jika ia berkata, jiwa ini terasa terbang bersama angin dan burung-burung. Tuhan .... tidakkah kau beri ia untukku ....?

“happy birth day sayang .” bisiknya ditelingaku. Aku terharu tentang surprise ini. Aku tak menyangka Diaz akan melakukan hal ini apadaku.

“terima kasih sayang atas semuanya yang udah kamu kasih ke aku.” Tangis bahagiaku dipelukannya.

“apa ini ?” tanyaku setelah Diaz memberikan bingkisan imut kepadaku.

“buka aja ...” pintanya.

Kubuka bingkisan imut itu dengan perlahan. Sebenarnya sudah tak sabar rasanya untuk melihat. “indah sekali sayang .” aku terkejut saat kubuka isi bingkisan itu. Sebuah cincin permata yang begitu indah.

“sayang.... kamu mau kan jadi istriku ?”

Aku diam terpaku mendengarnya. Dia melamarku dengan cincin ini. Aku terdiam tanpa suara. Mulut ini terasa kaku untuk berbicara. Otakpun sepertinya beku. Seperti mimpi hari ini. Tak mampu hati ini meluapkan rasa ... aku bahagia namun aku juka terluka ... menatapnya yang membuat hati ini enggan untuk berkata tidak. Air mata ini bukan hanya air mata bahagia, tapi air mata ini juga kesedihan dari akhir cintaku yang tak pernah terungkapkan. Inilah jalan yang hidup yang kupilih, berarti aku harus mererima kenyataan dengan hati yang lapang. Diaz tidaklah menyakitiku, akulah yang masuk dalam cinta yang suram.

Wajahnya begitu bahagia saat mendengar aku berkata ya. Begitu juga saat kukabarkan Zee bahwa Diaz melamarnya, ia begitu senangnya hingga tak sabar lagi untuk cepat kembali. Rencana 2 bulan lagi divilla dimajukan 1 bulan lebih awal karena tanggal pernikahan telah ditentukan. Seperti ada kekuatan super yang membuata Zee lebih semangat untuk segera sembuh ...





                                                                                                ***



Hari ini aku melihat ada malaikat dikehidupanku.. malaikat Zee yang selalu membuatku untuk selalu semangat hidup. Inilah yang membuatku mengapa aku mau melakukan ini demi Zee. Aku tak ingin Zee hidup seperti aku yang harus meninggalkan dunia karena suatu kanker yang telah hidup ditubuhku sejak dua tahun terakhir. Malaikat ku kini terlihat cantik dengan pakaian pengantin serba putih. Aku bahagia melihat Zee tersenyum ceria meskipun sebenarnya hati ini begitu terluka dengan pernikahan ini. Seandainya Diaz tahu bahwa wanita yang ia pinang adalah aku, bukan Dia ...

Biarlah ini kusimpan dalam akhir cerita hidupku. Cerita cintaku hanya cerita yang akan tetap aku simpan hingga aku terlelap tidur untuk selamanya. Mungkin hari inilah aku dapat melihat malaikatku tersenyum ceria untuk terakhir kalinya. Karena  vonis dokter kemarin, membuatku pasrah dalam hidup ini.


note:
cerita ni terinspirasi dari Gominam ...
jD .. dkit2 mrip gK apa2 eA ... hehehe.... 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar